1. TEMPAT BELAJAR ILMU JURNALISTIK
Secara formal, ilmu jurnalistik bisa dipelajari di perguruan tinggi negeri maupun swasta, melalui program diploma, strata 1, 2 (magister) dan 3 (Phd. / Dr.) Umumnya jurnalistik hanya menjadi Satuan Mata Kuliah (SKS) dari jurusan publisistik di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Namun ada beberapa perguruan tinggi, yang menjadikan jurnalistik sebagai salah satu jurusan di Fakultas Publisistik, bersamaan dengan Advertising dan Public Relation (PR = kehumasan).
Apakah untuk menjadi wartawan profesional, seseorang harus memiliki pendidikan formal seperti halnya dokter, pengacara, akuntan publik, pilot dan awak kapal? Tidak harus. Siapa pun bisa berprofesi sebagai wartawan, asalkan memiliki keterampilan sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh media massa tempatnya bekerja (wartawan tetap) dan yang akan dikirimi tulisan/foto (wartawan free lance, kontributor tetap). Jadi profesi wartawan berbeda dengan dokter, pengacara, akuntan publik, pilot dan awak kapal yang harus memiliki pendidikan khusus dengan standar internasional.
Selain melalui pendidikan formal di perguruan tinggi, di manakah seseorang bisa belajar ilmu jurnalistik? Biasanya calon wartawan dengan pendidikan strata 1 berbagai jurusan, setelah diterima bekerja di perusahaan media massa, akan dididik (diberi bekal ilmu jurnalistik) melalui program in house training. Selain itu, cukup banyak kursus dan pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga swasta, yang terbuka untuk umum. Seseorang yang berminat belajar ilmu jurnalistik bisa mengikuti training-training di lembaga swasta tersebut.
Apakah untuk menjadi wartawan profesional, seseorang harus memiliki pendidikan formal seperti halnya dokter, pengacara, akuntan publik, pilot dan awak kapal? Tidak harus. Siapa pun bisa berprofesi sebagai wartawan, asalkan memiliki keterampilan sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh media massa tempatnya bekerja (wartawan tetap) dan yang akan dikirimi tulisan/foto (wartawan free lance, kontributor tetap). Jadi profesi wartawan berbeda dengan dokter, pengacara, akuntan publik, pilot dan awak kapal yang harus memiliki pendidikan khusus dengan standar internasional.
Selain melalui pendidikan formal di perguruan tinggi, di manakah seseorang bisa belajar ilmu jurnalistik? Biasanya calon wartawan dengan pendidikan strata 1 berbagai jurusan, setelah diterima bekerja di perusahaan media massa, akan dididik (diberi bekal ilmu jurnalistik) melalui program in house training. Selain itu, cukup banyak kursus dan pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga swasta, yang terbuka untuk umum. Seseorang yang berminat belajar ilmu jurnalistik bisa mengikuti training-training di lembaga swasta tersebut.
Selain melalui pendidikan formal di perguruan tinggi, di manakah seseorang bisa belajar ilmu jurnalistik? Biasanya calon wartawan dengan pendidikan strata 1 berbagai jurusan, setelah diterima bekerja di perusahaan media massa, akan dididik (diberi bekal ilmu jurnalistik) melalui program in house training. Selain itu, cukup banyak kursus dan pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga swasta, yang terbuka untuk umum. Seseorang yang berminat belajar ilmu jurnalistik bisa mengikuti training-training di lembaga swasta tersebut.
Pendidikan Menulis dan Jurnalis
Ada berapa macamkah pendidikan menulis dan jurnalis?
Pendidikan menulis (dalam arti mengarang, menyusun tulisan), sudah mulai diajarkan sejak di bangku SD. Pelajaran menulis ini terus berlanjut sampai ke jenjang perguruan tinggi. Di sini, keterampilan menulis sangat diperlukan dalam rangka menyusun karya ilmiah sebagai bagian dari tugas akhir maupun hasil penelitian. Sementara pendidikan jurnalis (kewartawanan) hanya diajarkan secara formal di jurusan publisistik atau jurnalistik di perguruan tinggi yang membuka jurusan ini, baik untuk program diploma maupun strata. Selain pendidikan formal, menulis dan kewartawanan juga diajarkan di berbagai lembaga pelatihan/training. Media massa besar, baik cetak, radio, televisi dan kantor berita juga mengajarkan keterampilan menulis dan jurnalis melalui program in house training.
Profesi apa sajakah yang terkait dengan kegiatan tulis menulis?
Profesi yang terkait dengan kegiatan tulis menulis antara lain sastrawan (penyair, cerpenis, novelis, penulis naskah drama), wartawan, kolumnis, esais, penulis teks iklan (copy writer), penulis script program radio/tivi, penulis skenario film/sinetron dan ghost writer (penulis pidato, sambutan, artikel dan buku untuk seorang tokoh).
Apakah mereka yang sudah memiliki status penulis/wartawan berarti tidak perlu belajar lagi? Mereka yang sudah meraih predikat sebagai penulis/wartawan profesional pun tetap harus terus-menerus belajar. Baik secara formal, non formal maupun informal. Pendidikan menulis secara formal di perguruan tinggi, hanya terbatas menyangkut profesi jurnalis (non fiksi). Sementara sasterawan, tidak ada sekolah formalnya. Fakultas sastra di perguruan tinggi, hanya sebatas mengajarkan ilmu sastra. Bukan mendidik mahasiswa untuk menjadi sasterawan.
Dalam pendidikan menulis dan jurnalis, manakah yang lebih penting: belajar atau berlatih? Berlatih jelas lebih penting. Sebab kegiatan menulis atau menjadi wartawan, lebih memerlukan keterampilan (skill) dan bukan sekadar pengetahuan. Selain dengan berlatih, skill juga akan datang secara otomatis kalau seseorang terus-menerus bekerja sambil memperbaiki diri. Keterampilan apa pun, hanya akan meningkat apabila seseorang telah memiliki “jam terbang†cukup banyak.
Mengapa informasi mengenai pendidikan tulis menulis dan kewartawanan sampai sekarang sangat jarang sampai ke masyarakat? Sebab dunia tulis menulis memang hanya digeluti oleh sedikit orang. Kebanyakan penulis buku petunjuk praktis menulis dan kewartawanan, justru mereka yang tidak memiliki pengetahuan ilmu jurnalistik. Misalnya sasterawan yang kebetulan juga wartawan, menulis buku petunjuk untuk menjadi penulis/wartawan. Atau dosen perguruan tinggi membuat buku petunjuk praktis “Menulis Ilmiah Populer di Media Masaâ€Â. Sementara mereka yang memiliki pengetahuan jurnalistik cukup baik, jarang yang mau menyusun buku petunjuk.
Dengan mempelajari matakuliah “Pengantar Jurnalistik” ini mahasiswa akan memperoleh pengetahuan-pengetahuan awal/dasar tentang jurnalistik, sebagai pijakan awal dalam membangun dan mengembangkan upayanya mengenal, memahami, bahkan sekuat tenaga ikut menentukan praktik jurnalistik media massa tersebut, baik bagi kepentingan sektor bisnis maupun demi kemajuan kemanusiaan secara umum.
Matakuliah “Pengantar Jurnalistik” menjelaskan konsep dan pengetahuan dasar tentang jurnalistik dari sejarah perkembangan jurnalistik, fungsi pada setiap ruang lingkup/bidang-bidang media massa (cetak, media radio, media televisi/film, dan media online/media sosial, serta jurnalisme warga (citizen jouornalism), prinsip-prinsipnya (aktualitas, proximity/ kedekatan, nilai berita, faktualitas/5W+1H, obyektivitas, imparsialitas/berimbang) terkait isu realitas media, agenda setting, dampak media dan etika jurnalistik. Matakuliah ini juga memberikan sejumlah pengetahuan dan ketrampilan dasar jurnalistik yang meliputi teknik dasar pengumpulan fakta (wawancara dan observasi), penulisan jurnalistik (berita, reportase, feature) serta karakteristik foto dan video jurnalistik.
Dengan mengikuti matakuliah Media Relations ini, mahasiswa mampu:
1. menjelaskan sejarah perkembangan jurnalistik,
2. menjelaskan bidang-bidang jurnalistik dan karakteristik masing-masing,
3. menjelaskan prinsip-prinsip jurnalistik,
4. memiliki ketrampilan dasar jurnalistik khususnya teknik pengumpulan fakta dan penulisan jurnalistik,
5. memahami karakteristik foto dan video jurnalistik.
Perkuliahan ini dilakukan selama satu semester, dalam 14 kali pertemuan (tiap pertemuan berdurasi 150 menit), 1 kali ujian tengah semester, dan 1 kali ujian akhir semester. Dalam pertemuan (tatap muka) dengan dosen di kelas, mahasiswa akan mengalami pembelajaran dengan metode-metode: curah gagasan (brainstorming), berdiskusi dalam kelompok, mempresentasikan hasil diskusi kelompok dan berdiskusi secara pleno/lintas kelompok, melakukan latihan-latihan praktik (penulisan jurnalistik), mencermati penjelasan dosen (ceramah) dan berpartisipasi dalam tanya-jawab.
Di antara pertemuan tatap muka, mahasiswa akan mengerjakan tugas-tugas seperti mempelajari buku-buku referensi yang direkomendasikan dosen dan makalah/handout yang disajikan dosen, mencari dan mempelajari bahan-bahan bacaan dari sumber-sumber lain (media massa cetak, elektronik, dan media online/website/e-book), melakukan observasi media (misalnya media cetak dan media online/internet), dan melakukan latihan-latihan praktik (penulisan jurnalistik).
Materi perkuliahan terdiri dari pokok-pokok bahasan:
1. Sejarah perkembangan jurnalistik
2. Definisi dan karakteristik jurnalistik dan karakteristik jurnalistik beragam media
3. Prinsip-prinsip jurnalistik dan kaitannya dengan realitas media, agenda setting, dampak media dan etika jurnalistik
4. Teknik wawancara dan observasi
5. Teknik penulisan jurnalistik (berita, reportase, feature)
6. Karakteristik foto dan video jurnalistik.
Untuk mendukung efektivitas perkuliahan, mahasiswa melengkapi pembelajaran dalam pertemuan tatap muka dengan cara mengerjakan tugas-tugas:
1. Mempelajari bahan-bahan bacaan referensi (softcopy dan buku-buku) dan menulis laporan pembelajaran sesuai format yang ditentukan dosen.
2. Mencari dan mempelajari bahan-bahan bacaan dari sumber-sumber lain (media massa cetak, elektronik, dan media online/website/e-book) dan menulis laporan pembelajaran sesuai format yang ditentukan dosen.
3. Melakukan observasi media (cetak, audio-visual, online).
4. Melakukan latihan penulisan jurnalistik.
TUGAS:
JURNALISTIK
TEMPAT BELAJAR JURNALISTIK
OLEH
ROLI YANTI A1D3 09 083
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar