| urutan | nama pacar | Hobby Pacar | keterangan | target baru |
| pertama | Ita | Tinju | Tinju | maco |
| kedua | Mita | begadang | begadang | cool |
| ketiga | Mia | nonton film perang | nonton film perang | wangi |
| keempat | Tami | Tdur | tidur | ganteng |
| kelima | Tati | makan | makan | amburadul |
Sabtu, 26 Mei 2012
Sabtu, 19 Mei 2012
wacana BI
MEMBUAT KURSI DENGAN ALAT SEDERHANA.
Kursi mewah yang banyak dipakai di hotel, vila, dan rumah-rumah mewah di luar negeriitu ternyata berasal dari Cirebon. Barang itu merupakan hasil karya tangan dan jiwa seni anak-anak desa di daerah Cirebon. Dengan alat sederhana, para perajin memotong-motong rotan. Kemudian, menciptakan berbagai bentuk kerangka kursi dan meja. Setelah kerangka itu diampeas, lalu dupasang anyaman pengganti rotan yang terbuat dari kertas dan semen. Kertas semen itu dipilih-pilih menjadi seutas tali, lalu dianyam. Tali itu dianyam dengan mesin pada kawat yang telah dibungkus kertas semen. Dengan demikian, terbentuklah anyaman tali kertas seperti lembaran kertas yang disebut loom. Bahan baku berupa lembaran anyaman kertas ini masih didatangkan dari Eropa.
ANALISIS WACANA
1. Dari contoh di atas termasuk jenis wacana procedural kaena isi wacana ini menceritakan urutan-urutan cerita/ pebuatan sebuah kursi mewah yakni dari mana kursi itu dibuat, cara-cara pembuatan kursi yang dimulai dari memotong-motong rotan, membuat kerangka kursi dan meja hingga terbentuk sebuah kursi mewah.
2. Konteks wacana diatas yaitu kerjinan tangan anak-anak Cirebon membuat kursi dengan alat yang sederhana. Menurut Holliday (1994: 16-17) memberikan konsep yang digunakan utuk menafsirkan konteks situasi teks. Pemerianya dari sudut kerangka konseptual yang sederhana dengan tiga pokok bahasan yaitu:
a) Medan wacana yakni menunjuk pada hal yang sedang terjadi yaitu pemberitahuaan atau sebuah penyampaian tentang kursi mewah di hotel, di vila, dan rumah-rumah mewah yang ada di luar negeri.
b) Pelibat wacana yaitu orang-orang yang terlibat yakni hal ini menunjuk anak-anak desa di daerah Cirebon serta karya dan jiwa seni yang dihasilkan.
c) Sarana wacana yaitu peran dan hal-hal yang dibutukan yakni dengan alat yang sederhana mereka dapat menghasilkan sebuah kursi hingga sampai ke luar negeri, walau hanya dengan alat dan bahan yang ederhana, yaitu memotong-motong rotan, menciptakan kerangka kursi dan meja, memasang pengganti anyaman rotan, dari kertas semen , memilih salah satunya hingga menjadi seutas tali, dan lalu dianyam hingga menciptakan sebuah kursi-kursi yang mewah.
1) Judul dari wacana diatas yaitu MEMBUAT KURSI DENGAN ALAT SEDERHANA.
2) TopiK dari wacana di atas yaitu PENGALAMAN DAN KREASI TANGAN ANAK CIREBON
3) Tema dari wacana di atas yaitu MINIMNYA PENGUSAHA SUKSES DALAM BIDANG KERAJINAN DAN SENI
.
Kursi mewah yang banyak dipakai di hotel, vila, dan rumah-rumah mewah di luar negeriitu ternyata berasal dari Cirebon. Barang itu merupakan hasil karya tangan dan jiwa seni anak-anak desa di daerah Cirebon. Dengan alat sederhana, para perajin memotong-motong rotan. Kemudian, menciptakan berbagai bentuk kerangka kursi dan meja. Setelah kerangka itu diampeas, lalu dupasang anyaman pengganti rotan yang terbuat dari kertas dan semen. Kertas semen itu dipilih-pilih menjadi seutas tali, lalu dianyam. Tali itu dianyam dengan mesin pada kawat yang telah dibungkus kertas semen. Dengan demikian, terbentuklah anyaman tali kertas seperti lembaran kertas yang disebut loom. Bahan baku berupa lembaran anyaman kertas ini masih didatangkan dari Eropa.
ANALISIS WACANA
1. Dari contoh di atas termasuk jenis wacana procedural kaena isi wacana ini menceritakan urutan-urutan cerita/ pebuatan sebuah kursi mewah yakni dari mana kursi itu dibuat, cara-cara pembuatan kursi yang dimulai dari memotong-motong rotan, membuat kerangka kursi dan meja hingga terbentuk sebuah kursi mewah.
2. Konteks wacana diatas yaitu kerjinan tangan anak-anak Cirebon membuat kursi dengan alat yang sederhana. Menurut Holliday (1994: 16-17) memberikan konsep yang digunakan utuk menafsirkan konteks situasi teks. Pemerianya dari sudut kerangka konseptual yang sederhana dengan tiga pokok bahasan yaitu:
a) Medan wacana yakni menunjuk pada hal yang sedang terjadi yaitu pemberitahuaan atau sebuah penyampaian tentang kursi mewah di hotel, di vila, dan rumah-rumah mewah yang ada di luar negeri.
b) Pelibat wacana yaitu orang-orang yang terlibat yakni hal ini menunjuk anak-anak desa di daerah Cirebon serta karya dan jiwa seni yang dihasilkan.
c) Sarana wacana yaitu peran dan hal-hal yang dibutukan yakni dengan alat yang sederhana mereka dapat menghasilkan sebuah kursi hingga sampai ke luar negeri, walau hanya dengan alat dan bahan yang ederhana, yaitu memotong-motong rotan, menciptakan kerangka kursi dan meja, memasang pengganti anyaman rotan, dari kertas semen , memilih salah satunya hingga menjadi seutas tali, dan lalu dianyam hingga menciptakan sebuah kursi-kursi yang mewah.
1) Judul dari wacana diatas yaitu MEMBUAT KURSI DENGAN ALAT SEDERHANA.
2) TopiK dari wacana di atas yaitu PENGALAMAN DAN KREASI TANGAN ANAK CIREBON
3) Tema dari wacana di atas yaitu MINIMNYA PENGUSAHA SUKSES DALAM BIDANG KERAJINAN DAN SENI
.
sastra
SIKAP-SIKAP PAMALI DI WAKATOBI
1. Duduk-duduk di depan pintu dalam artian nanti jauh jodoh
2. Tengkurap dalam artian nanti orang tua kita meninggal
3. Melamun dalam artian mengundang kesusahan
4. Menyanyi ketika memasak dalam artian nanti dapat jodoh orang yang sudah tua
5. Melangkahi batang daun kelor dalam artian nanti bisul di pantat
6. Duduk diatas orang yang paling tua dari kita dalam artian tidak sopan
7. Berpakaian terbalik dalam artian nanti diikuti setan
8. Membuang air lliur didekat orang yang makan dalam artian tidak sopan
9. Melawan orangtua dalam artian nanti durhaka
10. Memakai sendal yang berbeda dalam artian akan diikuti setan
11. Meminuman keras dalam artian berdosa
12. Berjudi dalam artian berdosa
13. Berzina dalam artian berdosa dan terhina
14. Mencuri dalam artian berdosa
15. Makan sambil baring dalam artian pemalas
16. Mandi malam dalam artian berpenyakit
17. Mengikuti pembicaraan orangtua dalam artian mengejek
18. Bersiul malam-malam dalam artian memanggil setan
19. Berteriak teriak tidak baik diperkampungan dalam artian mengundang lawan
20. Keluar malam-malam bagi perempuan dalam artian perempuan tidak baik
21. Memukul pukul panci dalam artian memanggil setan
22. Memukul pukul piring dalam artian meminta belas kasihan pada orang lain
23. Mengosongkan guci sebagai penampung air dalam artian rejeki menjauh
24. Melangkahi orang yang sedang tidur dalam artian tidak sopan
25. Memukul pukul gelas dalam artian memanggil setan
Sabtu, 12 Mei 2012
ANAKES BAHASA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bahasa Indonesia sebagaimana tercantum dalam UUD 1945 merupakan bahasa nasional digunakan di seluruh wilayah Indonesia. Bahasa ini diajarkan sejak SD hingga perguruan tinggi dan sebagai bahasa pemersatu bangsa Indonesia. Hal ini karena Bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional sekaligus bahasa negara di Indonesia. Sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia berfungsi sebagai (1) lambang kebanggaan nasional, (2) lambang identitas nasional, (3) alat pemersatu berbagai masyarakat yang berbeda-beda latar belakang sosial, budaya dan bahasanya, serta (4) alat perhubungan antarbudaya atau daerah.
Sedangkan kedudukan
bahasa Indonesia sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia mempunyai fungsi
sebagai (1) bahasa resmi kenegaraan, (2) bahasa pengantar resmi di dunia
pendidikan dan (3) bahasa resmi di dalam perhubungan tingkat nasional untuk
kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta teknologi
modern.(Oka, 1987:165). oleh karena itu, bahasa Indonesia digunakan sebagai
bahasa komunikasi oleh pemakai bahasa untuk menyampaikan ide dan gagasannya.
Sebagai bahasa
komunikasi, bahasa Indonesia memiliki ragam bahasa. Ragam bahasa inilah yang
memunculkan berbagai variasi pemakaian bahasa. Hal ini terjadi karena pemakai
bahasa memerlukan alat komunikasi yang sesuai dengan situasi dan kondisi yang
ada. Permasalahan inilah yang menjadikan adanya perbedaan pandangan dan
persepsi dalam bahasa berdasarkan kaidah-kaidah tertentu baik berupa kaidah
ketatabahasaan dan kaidah kekosakataan. Kaidah tersebut bagi pemakai bahasa
merupakan pedoman yang harus ditaati dalam mengungkapkan pikirannya dengan
menggunakan bahasa (Sutrisno, 1984:91 dalam Dirgo Sabarianto, 2004:2).
Perbedaan pandangan
dan pemakaian bahasa dalam mengungkapkan ide dan pikiran/ perasaan tersebut
menjadikan suatu masalah yang perlu dikaji berdasarkan pedoman yang ada.
Masalah tersebut adalah pemenggalan kata. Banyak kata yang terpenggal dalam
kalimat dan pemenggalannya itu terasa janggal. Contohnya kata dengan, dipenggal
menjadi den-gan. Untuk itulah harus dilakukan pengecekan ulang dan perlu
dilakukan penelusuran berdasarkan kaidah yang berlaku.
1.2
Rumusan masalah
Berdasarkan
latar belakang diatas, maka masalah dalam analisis ini adalah bagaimana
analisis kesalahan pemenggalan kata pada skripsi Lang Kamare tentang analisis
karakter tokoh dalam novel Zainuddin dan Hayati?
1.3
Tujuan
Adapun
tujuan dari analisis ini adalah untuk mendeskripsikan analisis kesalahan kata
pada skripsi Lang Kamare tentang analisis karakter tokoh dalam novel Zainuddin
dan Hayati.
1.4
Manfaat
1.4.1
Sebagai bahan masukan bagi penulis selanjutnya khususnya yang menganalisis
kesalahan pemenggalan kata
1.4.2 sebagai bahan tambahan bagi yang manganalisis
tentang pemenggalan kata
BAB II
LANDASAN TEORI
Berdasarkan
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (Pusat Bahasa Depdiknas
dan PT Intan Pariwara, 2003:3-5) penulis membahas kesalahan pemenggalan kata
yang biasanya terjadi karena pindah baris baru.
2.1 Pemenggalan kata pada kata
dasar dilakukan sebagai berikut.
2.1.1 Jika di tengah kata ada vokal yang berurutan, pemenggalan itu dilakukan di antara kedua huruf vokal itu. Misalnya: ma-in, sa-at, bu-at. Sementara huruf diftong ai, au,dan oi tidak pernah diceraikan sehingga pemenggalan kata tidak dilakukan di antara kedua huruf itu. Misal: au-la bukan a-u-la.
2.1.1 Jika di tengah kata ada vokal yang berurutan, pemenggalan itu dilakukan di antara kedua huruf vokal itu. Misalnya: ma-in, sa-at, bu-at. Sementara huruf diftong ai, au,dan oi tidak pernah diceraikan sehingga pemenggalan kata tidak dilakukan di antara kedua huruf itu. Misal: au-la bukan a-u-la.
Dalam majalah DERAP
GURU ini ada satu kata yaitu daerah. Tertulis daer-ah. Jika mengacu pada
pedoman di atas maka yang benar ialah da-e-rah. Ini sesuai dengan yang ada di
dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Balai Pustaka, 2005).
2.1.2 Jika di tengah kata ada
guruf konsonan termasuk gabungan huruf konsonan, di antara dua huruf vokal,
pemenggalan dilakukan sebelum huruf konsonan. Misal: ba-pak, su-lit, la-wan,
de-ngan.
Dari data, ada
beberapa kesalahan berdasarkan ketentuan ini. Contoh:
den-gan——–> de-ngan pal-ing——–>pa-ling
dap-at———-> da-pat matem-atika—>ma-te-ma-ti-ka
kual-itas——-> ku-a-li-tas sedik-it———> se-di-kit
mas-ing——–> ma-sing ped-agogik—-> pe-da-go-gik
ser-ing———> se-ring mod-el———> mo-del
anuger-ah—–> anu-ge-rah pan-gan——-> pa-ngan
ked-ua———> ke-dua may-oritas—-> ma-yo-ri-tas
pros-es——–> pro-ses san-gat——–> sa-ngat
kabupat-en—> ka-bu-pa-ten
den-gan——–> de-ngan pal-ing——–>pa-ling
dap-at———-> da-pat matem-atika—>ma-te-ma-ti-ka
kual-itas——-> ku-a-li-tas sedik-it———> se-di-kit
mas-ing——–> ma-sing ped-agogik—-> pe-da-go-gik
ser-ing———> se-ring mod-el———> mo-del
anuger-ah—–> anu-ge-rah pan-gan——-> pa-ngan
ked-ua———> ke-dua may-oritas—-> ma-yo-ri-tas
pros-es——–> pro-ses san-gat——–> sa-ngat
kabupat-en—> ka-bu-pa-ten
Melihat banyaknya
pemenggalan yang salah tersebut, perlu pembenahan, mengingat kesalahan tersebut
ternyata diulang beberapa kali. Contohnya pada kata dengan, masing dan paling.
Ketiga kata tersebut diulang lebih dari lima kali.
2.1.3 Jika di tengah kata ada
dua huruf konsonan yang berurutan, pemenggalan dilakukan di antara kedua huruf
konsonan itu. Gabungan huruf konsonan tidak pernah diceraikan. Misal: man-di,
bang-sa, ap-ril.
Dalam penelitian
ini ditemukan beberapa kata yang pemenggalannya salah. Contohnya:
pro-gram———>prog-ram
pent-ing————> pen-ting
mi-tra————–>mit-ra
re-sponden——–>res-pon-den
raky-at————> rak-yat
pro-gram———>prog-ram
pent-ing————> pen-ting
mi-tra————–>mit-ra
re-sponden——–>res-pon-den
raky-at————> rak-yat
Melihat ketentuan
ini, mungkinkah kata dengan, pangan, sangat yang dipenggal menjadi den-gan,
pan-gan, san-gat di DERAP GURU mengacu pada ketentuan ini? Bisa juga ya. Tetapi
setelah penulis telusuri di kamus dan contoh serta ketentuan di EYD, maka
kata-kata tersebut pemenggalannya mengikuti ketentuan 1b karena ng yang
bergandengan tidak dianggap sebagai konsonan yang dapat dipenggal tetapi sebagai
gabungan huruf konsonan yang tidak pernah diceraikan. (lihat 2.1.3).
2.1.4 Jika di tengah kata ada
tiga buah huruf konsonan atau lebih, pemenggalan dilakukan di antara huruf
konsonan yang pertama dan yang kedua. Misal: bang-krut, ben-trok.
Dalam penyimakan,
tidak ditemukan kesalahan dalam pemenggalan kata dengan ketentuan 2.1.4 ini.
2.1.5 Suku kata yang berupa satu huruf vokal yang terdapat pada awal atau akhir lema pokok seperti amil, elaborasi, uban, via dan vibrio tidak dipenggal (KBBI, 2005:xxvi).
Mengacu ketentuan tersebut, penulis menemukan beberapa kesalahan pemenggalan kata yaitu pada kata:
in-gin————> ingin
up-aya———-> upa-ya
ay-at————> ayat
in-ovasi———> ino-va-si
am-at———–> amat
iu-ran———-> iur-an
Dari contoh kesalahan tersebut, ternyata kata upaya yang dipenggal up-aya, dilakukan hingga beberapa kali. Dan hal ini sangatlah mengganggu.
2.2 Imbuhan akhiran dan imbuhan
awalan, termasuk awalan yang mengalami perubahan bentuk serta partikel yang
biasanya ditulis serangkai dengan kata dasarnya, dapat dipenggal pada
pergantian baris. Misal: makan-an, me-rasa-kan, mem-bantu.
Mengacu pada
ketentuan 2, tentang imbuhan bisa dibagi menjadi dua yaitu awalan dan akhiran.
2.2.1 Untuk awalan ada beberapa kesalahan di Majalah DERAP GURU, contohnya:
be-rasal ———–> ber-asal
men-gajar———> meng-ajar
pen-ganggur——> peng-anggur
men-gatakan——> me-ngatakan
meny-atakan——> me-nyatakan
dim-ulai———–> di-mulai
Berdasarkan contoh kesalahan tersebut, bisa dimengerti bahwa kesalahan terbesar pemenggalan kata terjadi pada kata yang berimbuhan terutama awalan (lihat tabel 2)
2.2.2 Untuk akhiran, ada
ketentuan bahwa akhiran bisa dipenggal kecuali akhiran -i. Bentuk dasar pada
kata turunan sedapat-dapatnya tidak dipenggal. Untuk akhiran -i tidak dipenggal
supaya jangan terdapat satu huruf saja pada pangkal baris. (EYD).
Contoh kesalahan pemenggalan kata yang berakhiran.
tahu-nan————->tahun-an
sambu-tan———–> sambut-an
uku-rannya————-> ukur-annya
berlakun-ya————> berlaku-nya
kementer-ian———–> kementeri-an
Contoh pemenggalan kata berakhiran -i.
Mengiku-ti————-> meng-i-kuti
melebi-hi—————> me-le-bihi
terlindun-gi————> ter-lin-dungi
memili-ki—————>me-mi-liki
Akan tetapi, pemenggalan kata dengan satu huruf vokal tidak berlaku pada sublema yang berawalan atau berakhiran. Contohnya, berurusan menjadi ber-u-rus-an. Begitu juga dengan kata yang mengandung satu bunyi vokal ditengah seperti puisi bisa dipenggal pu-i-si.
Contoh kesalahan pemenggalan kata yang berakhiran.
tahu-nan————->tahun-an
sambu-tan———–> sambut-an
uku-rannya————-> ukur-annya
berlakun-ya————> berlaku-nya
kementer-ian———–> kementeri-an
Contoh pemenggalan kata berakhiran -i.
Mengiku-ti————-> meng-i-kuti
melebi-hi—————> me-le-bihi
terlindun-gi————> ter-lin-dungi
memili-ki—————>me-mi-liki
Akan tetapi, pemenggalan kata dengan satu huruf vokal tidak berlaku pada sublema yang berawalan atau berakhiran. Contohnya, berurusan menjadi ber-u-rus-an. Begitu juga dengan kata yang mengandung satu bunyi vokal ditengah seperti puisi bisa dipenggal pu-i-si.
2.2.3 Pada kata yang berimbuhan sisipan, pemenggalan kata dilakukan
sebagai bagian dari kata dan tidak diperhitungkan sebagai satu kesatuan.
Contoh: ge-me-tar, te-lun-juk, si-nam-bung, ge-li-gi.
Dalam kasus ini,
hanya ada satu kata yang mendapatkan sisipan yaitu kata kinerja yang kata
dasarnya kerja. Penulis mencoba mencarinya di Kamus Besar Bahasa Indonesia
edisi 2005, akan tetapi tidak ditemukan sublema tersebut. Ternyata ditemukan
kesalahan pemenggalan kata tersebut berdasarkan ketentuan di Pedoman EYD
tersebut, yaitu kin-erja———> ki-ner-ja.
2.3 Pemenggalan kata-kata
tertentu yang berasal dari bahasa Arab yang mengandung ain atau hamzah yang
didahului oleh konsonan seperti Alquran, bidah, jumat dan mutah dipenggal
sebagai berikut: Al-qur-an, bid-ah, jum-at, mut-ah.(KBBI, 2005:xxvi). Jadi
berbeda dengan ketentuan di atas yang terdapat dalam Pedoman EYD.
BAB III
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
|
NO
|
Kesalahan
|
Seharusnya
|
|
1
2
|
Mahaesa
Iniadalah
|
Maha Esa
Ini adalah
|
Dari tabel diatas dapat disimpulkan
bahwa kata Mahaesa harus dipisahkan menjadi maha esa karena sesuai dengan ejaan
yang disempurnakan. Begitu pula kata iniadalah harus juga dipisahkan menjadi
ini adalah
TUGAS :
ANALISIS
KESALAHAN BERBAHASA

OLEH
THESONGGIRLS
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN
SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2012
DAFTAR
PUSTAKA
Cisca
dkk. 2010. Pedoman Baku EYD Terbaru. Yogyakarta:
Pustaka Widyatama.
http:// www. Pemenggalankata.com. diakses
15 Maret 2012.
Langganan:
Postingan (Atom)
