SELAMAT DATANG

Sabtu, 02 Juni 2012

RPP UJIAN

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
SEKOLAH             : SMA Kartika Kendari
MATA PELAJARAN    : Bahasa Indonesia
KELAS             : X
SEMESTER             : 1
ALOKASI WAKTU        : 2 x 45 Menit

STANDAR KOMPETENSI
Mendengarkan: 1. Memahami siaran atau cerita yang disampaikan  secara langsung/tidak langsung.

KOMPETENSI DASAR
Mengidentifikasi unsur sastra (intrinsik dan ekstrinsik) suatu cerita yang disampaikan secara langsung/rekaman.

INDIKATOR
    Kognitif
    Proses
    Mengidentifikasi unsur-unsur intrinsik yang ada di dalam cerpen

    Produk
    Menentukan unsur intrinsik yang ada di dalam cerpen
    Menjelaskan maksud unsur intrinsik cerpen


    Psikomotor
    Menyampaikan unsur-unsur intrinsik yang telah ditemukan di dalam cerpen
    Menanggapi penjelasan tentang unsur-unsur yang ditemukan oleh teman.

    Afektif
    Karakter
    Kerja sama
    Teliti
    Tanggap

    Keterampilan sosial
    Menyampaikan hasil diskusi dengan baik dan benar
    Membantu teman yang mengalami kesulitan.

TUJUAN PEMBELAJARAN
    Kognitif
    Proses
Setelah membaca cerpen yang disajikan, siswa diharapkan mampu menemukan unsur-unsur intrinsik yang terdapat di dalam cerpen

    Produk
Setelah membaca dan membahas hasil pencapaian tujuan proses di  atas, siswa diharapkan mampu menuliskan kembali unsur-unsur intrinsik yang telah ditemukan.

    Psikomotor
Secara berkelompok siswa dapat menyampaikan unsur intrinsik cerpen yang disediakan dalam LKS 1: psikomotor.

    Afektif
    Karakter
Siswa terlibat aktif dalam pembelajaran dengan memperhatikan kemajuan dalam perilaku seperti kerja sama, teliti dan tanggap.

    Keterampilan sosial
Siswa terlibat aktif dalam pembelajaran dengan memperlihatkan kemajuan dalam kerampilan menyampaikan hasil diskusi dengan bahasa yang baik dan benar, bekerja sama dalam kelompoknya, dan membantu teman yang mengalami kesulitan.


MATERI PEMBELAJARAN
    Teks cerita pendek
MODEL DAN METODE PEMBELAJARAN
    Model pembelajaran : pembelajaran langsung (eksplisit)
    Metode pembelajaran
    Diskusi
    Unjuk kerja
    Penugasan

BAHAN
    Lembar kerja
    Spidol

ALAT
    Teks Cerita Pendek




 pedoman skor penilaian
pertemuan pertama I
Nokegiatan penilaian pengamat
A1Kegiatan awal (10 menit)
  • guru membuka pelajaran dengan mengucapkan salam dan menanyakan keadaan siswa yang tidak hadir.
  • Guru memberi motivasi kepada siswa.
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang harus dicapai.
  • Guru melakukan apersepsi dengan bertanya mengenai pengetahuan siswa tentang unsur intrinsik yang terdapat dalam karya sastra 

B1
Kegiatan inti (25 menit)
  • Siswa membentuk kelompok antara 4-5 orang per kelompok.
  • Guru memberi penjelasan tentang kinerja yang akan dilakukan siswa pada saat menyimak cerita yang akan disampaikan.
  • Siswa mendengarkan/menyimak cerita pendek yang sudah disediakan oleh guru, yang akan dibacakan oleh teman secara bergantian.
  •  Secara berkelompok siswa berdiskusi mengenai unsur intrinsik di dalam cerpen kemudian mengidentifikasi dan menuliskan unsur intrinsik yang terdapat di dalam cerpen.
  • Setiap kelompok menunjuk salah satu anggotanya untuk menyampaikan secara lisan hasil diskusi secara runtut dan jelas di depan kelas.
  •  Siswa bertanya jawab/menanggapi informasi yang didengar/disimak dengan bahasa dan alasan yang rasional dan logis.   

C1
kegiatan akhir (10 menit)
  • Guru dan siswa melakukan refleksi tentang pembelajaran hari ini
  •  Guru dan siswa menyimpulkan pembelajaran hari ini.
  •  Guru memberi tugas kepada siswa kemudian pembelajaran ditutup dengan salam.

LEMBAR KERJA SISWA (LKS)
BAHASA INDONESIA SMA KELAS X SEMESTER
 1 Standar Kompetensi Mendengarkan:
 1. Memahami siaran atau cerita yang disampaikan secara langsung/tidak langsung.

 Oleh:

Media Pembelajaran: Cerpen


Aku bagaikan manusia yang terhina. Rasanya kehadiranku tak pernah diharapkan siapapun, bahkan oleh kedua orang tuaku. Aku lahir dari sebuah keluarga yang hidupnya sangat memprihatinkan. Teramat sangat, karena kedua orang tuaku hidup dengan tidak layak ditambah lagi dengan pendidikan rendah dan sikap yang kolot. Hidup dengan kekurangan disana-sini menjadikan ibu dan bapak sebagai orang tua yang haus akan materi. Namun parahnya tiada upaya, hanya impian meninggi namun sangat tipis usaha untuk menggapainya. Jangan tanyakan di mana keluarga kami yang lain. Karena keadaannya sama saja. Entah mengapa aku lahir di tengah-tengah kelurga bobrok ini, bahkan aku menyebutnya keluarga terkutuk. Pada dasarnya orangtuaku mengharapkan anak mereka yang lahir adalah lelaki, karena mereka berharap kami akan membantu perekonomian keluarga. Namun, anak pertama terlahir sebagai perempuan, berlanjut terus tanpa henti hingga aku terlahir sebagai perempuan di urutan ke delapan. Hah…tidak usah heran, karena mereka pun tak pernah lelah mengharapkan impian bodoh mereka itu. Kedengarannya kasar sekali aku mengecam orang tua dan keluargaku sendiri. Namun, itulah kerasnya kehidupan, kadang kita akan terseret ke dalam arus disekelilingnya. Aku muak!! Aku tak ingin terus-terusan hidup luntang – lantung dalam kehidupan menyebalkan seperti ini. Apalagi setelah kelahiranku beberapa tahu lalu bapak pergi entah ke mana. Ia mungkin tak sanggup lagi memikul tanggung jawab untuk menafkahi sembilan orang perempuan yang hanya menyusahkan kehidupannya. Aku tahu di luar sana ia pasti berteriak lega. Hingga sudah bisa ditebak aku tak pernah tahu bagaimana rupa bapakku itu. Malam ini ku pilih sebagai malam yang tepat untuk mengakhiri bebanku selama ini. Apakah aku akan bunuh diri? Owh, tidak!! Aku tidak sebodoh itu. Aku hanya ingin memulai kehidupan baruku. Yaa, sama seperti bapak yang lari meninggalkan kami. Toh aku juga tidak akan dicari oleh mereka. Malah sangat pasti mereka akan senang, karena tanggungan mereka berkurang satu lagi. Hari-hariku berjalan dan berlanjut apa adanya. Awalnya sulit karena aku harus hidup sendiri tanpa ada yang perduli dengan diriku. Terkadang aku berpikir untuk mencari bapak. Ibu pernah bercerita, bahwa bapak mempunyai tanda yang bisa aku kenali. Yaitu ia mempunya tanda lahir berbentuk bulan sabit berwarna hitam legam di punggung sebelah kanan. Tanda yang langka, sehingga mudah untuk dikenali. Namun, apakah mungkin aku memeriksa punggung setiap laki-laki? Hah, mustahil. Sudahlah aku pun melenyapkan keinginan gila itu. Lagipula jika aku bertemu dengannya, aku mau apa darinya? Aku sudah teramat benci terhadapnya. Lelaki tak bertanggung jawab.!! Mungkin itulah awal dari kebencian ku yang teramat sangat terhadap lelaki. Apalagi aku terbiasa hidup di lingkungan perempuan yang mandiri tanpa lelaki. Ibu pun seolah mengajarkan untuk benci terhadap lelaki. Akhirnya ini juga yang membawaku ke dalam lembah kesalahan. Semua orang tahu bahwa hidup di jalan bukanlah hal mudah. Sangat banyak godaan yang menyesatkan. Dan aku pun tak bisa menghindarinya. Dan yang membuat aku bertahan dengan semua itu karena aku menikmatinya. Aku tak punya keahlian apa-apa. Yakh, terpaksa untuk membiayai hidup aku pun bekerja menjual diri. Mungkin bagi orang, perjalanan ini sudah biasa. Sudah tak sedih lagi. Sudah bassiiii….!!! Tapi itu tanggapan orang yang hanya mendengarnya, tapi bagiku yang merasakannya, ini sangat sakit. Saakiiit…. dan pedih…! Namun hal itu tak membuatku sedikit bersimpati terhadap pria. Jangan pikir aku akan menyerahkan tubuh ini pada pria-pria di luar sana yang nakal. Hah,,,tidak!! Tidak akan pernah.!! Lalu,, pada siapa?? Yakh, tentu saja terhadap sesama jenisku: perempuan. Hufft….aku merapikan pakaianku dan bergegas meninggalkan hotel. Siang itu aku baru saja “melayani” pelanggan setiaku. Pelangganku memang terbilang sedikit, karena memang susah untuk mencari yang seperti kami. Mungkin banyak, tetapi banyak yang tidak mau mengakui bahwa mereka adalah kaum lesbi. Namun, biarlah dengan begitu sainganku tidak terlalu banyak, dan tentu saja bayaranku akan tinggi. Seiring bertambahnya usia, pelangganku semakin berkurang. Apalagi usia yang semakin menua membuat parasku tak secantik dulu. Tenagaku pun tak sehebat dulu lagi. Sehingga banyak pelangganku yang kabur. Aku pun mulai berpikir untuk mencoba “menjualnya” kepada lelaki. Aku yakin pelanggan lelaki lebih banyak dan lebih mudah didapat. Lagipula tubuhku pun masih belum terlalu jelek bagi para lelaki. Awalnya aku berat, sangat berat. Aku tak pernah membayangkan akan melakukannya dengan lelaki. Karena terus terang rasa benci yang tertanam sejak kecil, belum bisa aku lenyapkan. Tapi kehidupan yang menuntunku. Malam ini, aku pun mendapatkan pelanggan pria pertama ku. Aku sama sekali tak merasakan apapun terhadap pria ini. Seorang pria paruh baya, yang dalam pikiranku sungguh tidak tahu diri. Seharusnya ia insaf, karena melihat tampangnya ia tak akan berumur panjang lagi. Tapi,,, sudahlah. Yang terpenting aku mendapatkan uang. Kami pun memulainya. Aku sungguh baru pertama melakukan ini dengan pria, setelah puluhan tahun aku bergelut dalam dunia hitam ini dan melakukannya dengan wanita. Aku merasakan hal aneh. Entah, apa namanya. Aku merasakan kesedihan yang mendalam. Ketika ia mulai menjelajahi tubuhku, hingga melucuti satu-persatu pakaian yang melekat ditubuhku. Namun, ditengah “permainan hot” kami itu, aku tersentak kaget. Aku kemudian segera memakai pakaianku. Aku tak peduli ketika pria itu terus memanggilku. Aku menghempaskan tubuhnya yang masih berusaha untuk memaksa aku kembali melanjutkan hubungan tadi. “ Kita belum selesai nona!! Jadi kamu tidak akan bisa lari dariku”. Huh…aku tidak peduli. Aku menhempaskan tubuhnya. Kutatap lekat-lekat wajahnya. Wajah itu seperti tak asing bagiku. Bahkan aku segera merasakan perasaan benci yang memuncak terhadap semua lelaki. Aku berlari terus berlari. Tiba-tiba saja rasa penasaran tentang sosok selama ini yang aku cari-cari hilang sudah. Karena baru saja aku melihat sebuah tanda bulan sabit berwarna hitam legam di punggung sebelah kanan. SELESAI

 LKS 1: LEMBAR KERJA SISWA
 Bahasa Indonesia
 Nama……………………. Kelompok……………… Tanggal……………….
 Kegiatan 1
 Bacalah cerita pendek yang telah disediakan. Setelah membaca, kerjakan langkah-langkah berikut: Tentukanlah unsur-unsur intrinsik yang terdapat di dalam cerpen tersebut! ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. LKS 2: LEMBAR KERJA SISWA
Bahasa Indonesia
Nama……………………. Kelompok……………… Tanggal……………….
Kegiatan 2
Carilah sebuah Cerpen. Lalu bacalah. Setelah membaca, kerjakan langkah-langkah berikut: Tentukanlah unsur-unsur intrinsik yang terdapat di dalam cerpen tersebut! ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ……………………………………………………………………………….
LEMBAR PEGANGAN GURU
(LPG)


BAHASA INDONESIA
SMA KELAS X SEMESTER 1



Standar Kompetensi
Mendengarkan: 1. Memahami siaran atau cerita yang disampaikan  secara langsung/tidak langsung.




Oleh:






Unsur Intrinsik Karya Sastra
adalah unsur-unsur yang secara organik membangun sebuah karya sastra dari dalam
Contoh unsur intrinsik
(1) tokoh
(2) alur
(3) latar,
(4) judul
(5) sudut pandang
(6) gaya dan nada
    Secara umum unsur-unsur intrinsik karya sastra prosa adalah:
1. Tokoh /karakter
2. Alur / plot
3. latar/ setting
4. sudut pandang (point of view)
5. tema
6. amanat

 Karakter adalah orang yang mengambil bagian dan mengalami peristiwa-peristiwa atau sebagian peristiwa-peristiwa yang digambarkan di dalam plot.
 Plot adalah rangkaian peristiwa yang satu sama lain dihubungan dengan hukum sebab-akibat.
 Latar adalah latar peristiwa yang menyangkut tempat, ruang, dan waktu. Tema adalah gagasan pokok yang terkandung dalam drama yang
 berhubungan dengan arti (mearning atau dulce) drama itu; bersifat lugas, objektif, dan khusus.
 Amanat adalah pesan yang hendak disampaikan oleh pengarang kepada pembaca yang berhubungan dengan makna (significance atau utile) drama itu; bersifat kias, subjektif, dan umum.
   
    PEMBEDAAN TOKOH
A. Dilihat dari segi peranan/ tingkat pentingnya/ keterlibatan dalam cerita
1. tokoh utama (main/ central character) yaitu tokoh yang diutamakan
penceritaannya
2. tokoh tambahan (peripheral character) yaitu penceritaan relatif pendek (tidak
mendominasi)

B. Dilihat dari fungsi penampilan tokoh
1. Protagonis
memberikan simpati, empati, melibatkan diri secara emosional terhadap tokoh tersebut. Tokoh yang disikapi demikian disebut tokoh protagonis. 
2. Antagonis
- tokoh yang menyebabkan terjadinya konflik
- beroposisi dengan tokoh protagonis
- Peran antagonis dibedakan menjadi dua, yaitu:
1. tokoh antagonis
2. kekuatan antagonis (tak disebabkan oleh seorang tokoh)
    Contoh: bencana alam, kecelakaan, nilai-nilai sosial, lingkungan alam, nilai moral, kekuasaan dan kekuatan yang lebih tinggi, dan sebagainya.

C. Berdasarkan Perwatakannya
1. Tokoh Sederhana/ Simple/ Flat
Tokoh yang hanya mempunyai satu kualitas pribadi (datar, monoton, hanya mencerminkan satu watak tertentu). Biasanya dapat dirumuskan dengan satu kalimat
2. Tokoh Bulat/ Complex/ Round
Diungkap berbagai kemungkinan sisi kehidupan, kepribadian, dan jati dirinya. Bertentangan, sulit diduga, dan mempunyai unsur surprise.
Keduanya tidak bersifat bertentangan, hanya merupakan gradasi saja.

D. Berdasarkan berkembang atau tidaknya perwatakan tokoh
• Tokoh Statis
adalah tokoh tak berkembang yang secara esensial tidak mengalami perubahan atau perkembangan perwatakan sebagai akibat peristiwa-peristiwa yang terjadi.
• Tokoh Berkembang
• mengalami perkembangan perwatakan dalam penokohan yang bersifat statis biasanya dikenal tokoh hitam dan tokoh putih

E. Berdasarkan Kemungkinan Pencerminan Tokoh terhadap Manusia dari Kehidupan Nyata
• Tokoh Tipikal
pada hakekatnya dipandang sebagai reaksi, tanggapan, penerimaan, tafsiran pengarang terhadap tokoh manusia di dunia nyata. Contoh guru, pejuang, dan lain-lain.
• Tokoh Netral
tokoh cerita yang bereksistensi demi cerita itu sendiri. Ia benar-benar merupakan tokoh imajiner





LEMBAR PENILAIAN
(LP)


BAHASA INDONESIA
SMA KELAS X SEMESTER 1



Standar Kompetensi
Mendengarkan: 1. Memahami siaran atau cerita yang disampaikan  secara langsung/tidak langsung.




Oleh:



LP 1 : KOGNITIF PROSES

Pedoman Penskoran LKS
nokomponen deskriptor 
skor 1 2 3
1
Mengidentifikasi unsur-unsur intrinsik yang ada di dalam cerpen
   
Siswa mampu Mengidentifikasi unsur-unsur intrinsik yang ada di dalam cerpen

           



Keterangan:
    (3) sangat tepat
    (2) tepat
    (1) tidak tepat


    Cara Pemberian Nilai

Rumus:                        Nilai=(Skor Perolehan Siswa)/(Skor Maksimun)   x  100

LP 2 : KOGNITIF PRODUK
pedoman penskoran

nokomponen
deskriptor

skor 1   2    3
1
Menentukan unsur intrinsik yang ada di dalam cerpen

           
  • Siswa mampu menentukan unsur intrinsik yang ada di dalam cerpen
  • Menjelaskan maksud unsur intrinsik cerpen
2
Menjelaskan maksud unsur intrinsik cerpen yang telah ditemukan
Siswa mampu menjelaskan maksud unsur intrinsik cerpen yang telah ditemuk





Keterangan:
    (3) sangat tepat
    (2) tepat
    (1) tidak tepat


    Cara Pemberian Nilai

Rumus:                        (Skor Perolehan Siswa)/(Skor Maksimun)   x  100

Jumat, 01 Juni 2012

BERBAGAI JENIS MEDIA PEMBELAJARN

BERBAGAI JENIS MEDIA PEMBELAJARAN

Media pembelajaran banyak jenis dan macamnya. Dari yang palng sederhana dan murah hingga yang canggih dan mahal. Ada yang dapat dibuat oleh guru sendiri dan ada yang diproduksi pabrik. Ada yang sudah tersedia di lingkungan untuk langsung dimanfaatkan dan ada yang sengaja dirancang.
Berbagai sudut pandang untuk menggolongkan jenis-jenis media.
Rudy Bretz (1971) menggolongkan media berdasarkan tiga unsur pokok (suara, visual dan gerak):
1.      Media audio
2.      Media cetak
3.      Media visual diam
4.      Media visual gerak
5.      Media audio semi gerak
6.      Media visual semi gerak
7.      Media audio visual diam
8.      Media audio visual gerak
Anderson (1976) menggolongkan menjadi 10 media:
1.      audio    : Kaset audio, siaran radio, CD, telepon
2.      cetak    : buku pelajaran, modul, brosur, leaflet, gambar
3.      audio-cetak    : kaset audio yang dilengkapi bahan tertulis
4.      proyeksi visual diam    : Overhead transparansi (OHT), film bingkai (slide)
5.      proyeksi audio visual diam    : film bingkai slide bersuara
6.      visual gerak        : film bisu
7.      audio visual gerak        : film gerak bersuara, Video/VCD, Televisi
8.      obyek fisik        : Benda nyata, model, spesimen
9.      manusia dan lingkungan        : guru, pustakawan, laboran
10.  komputer        : CAI
Schramm (1985) menggolongkan media berdasarkan kompleksnya suara, yaitu: media kompleks (film, TV, Video/VCD,) dan media sederhana (slide, audio, transparansi, teks). Selain itu menggolongkan media berdasarkan jangkauannya, yaitu media masal (liputannya luas dan serentak / radio, televisi), media kelompok (liputannya seluas ruangan / kaset audio, video, OHP, slide, dll), media individual (untuk perorangan / buku teks, telepon, CAI).
Henrich, dkk menggolongkan:
1.      media yang tidak diproyeksikan
2.      media yang diproyeksikan
3.      media audio
4.      media video
5.      media berbasis komputer
6.      multi media kit.
Pada artikel ini, media akan diklasifikasikan menjadi media visual, media audio, dan media audio-visual.


A. MEDIA VISUAL
1.      Media yang tidak diproyeksikan
a.    Media realia adalah benda nyata. Benda tersebut tidak harus dihadirkan di ruang kelas, tetapi siswa dapat melihat langsung ke obyek. Kelebihan dari media realia ini adalah dapat memberikan pengalaman nyata kepada siswa. Misal untuk mempelajari keanekaragaman makhluk hidup, klasifikasi makhluk hidup, ekosistem, dan organ tanaman.
b.    Model adalah benda tiruan dalam wujud tiga dimensi yang merupakan representasi atau pengganti dari benda yang sesungguhnya. Penggunaan model untuk mengatasi kendala tertentu sebagai pengganti realia. Misal untuk mempelajari sistem gerak, pencernaan, pernafasan, peredaran darah, sistem ekskresi, dan syaraf pada hewan. 
c.    Media grafis tergolong media visual yang menyalurkan pesan melalui simbol-simbol visual. Fungsi dari media grafis adalah menarik perhatian, memperjelas sajian pelajaran, dan mengilustrasikan suatu fakta atau konsep yang mudah terlupakan jika hanya dilakukan melalui penjelasan verbal. Jenis-jenis media grafis adalah:
1)      gambar / foto: paling umum digunakan
2)      sketsa: gambar sederhana atau draft kasar yang melukiskan bagian pokok tanpa detail. Dengan sketsa dapat menarik perhatian siswa, menghindarkan verbalisme, dan memperjelas pesan.
3)      diagram / skema: gambar sederhana yang menggunakan garis dan simbol untuk menggambarkan struktur dari obyek tertentu secara garis besar. Misal untuk mempelajari organisasi kehidupan dari sel samapai organisme.
4)      bagan / chart : menyajikan ide atau konsep yang sulit sehingga lebih mudah dicerna siswa. Selain itu bagan mampu memberikan ringkasan butir-butir penting dari penyajian. Dalam bagan sering dijumpai bentuk grafis lain, seperti: gambar, diagram, kartun, atau lambang verbal.
5)      grafik: gambar sederhana yang menggunakan garis, titik, simbol verbal atau bentuk tertentu yang menggambarkan data kuantitatif. Misal untuk mempelajari pertumbuhan.

2.      Media proyeksi
1.      Transparansi OHP merupakan alat bantu mengajar tatap muka sejati, sebab tata letak ruang kelas tetap seperti biasa, guru dapat bertatap muka dengan siswa (tanpa harus membelakangi siswa). Perangkat media transparansi meliputi perangkat lunak (Overhead transparancy / OHT) dan perangkat keras (Overhead projector / OHP). Teknik pembuatan media transparansi, yaitu:
-          Mengambil dari bahan cetak dengan teknik tertentu
-          Membuat sendiri secara manual
2.      Film bingkai / slide adalah film transparan yang umumnya berukuran 35 mm dan diberi bingkai 2X2 inci. Dalam satu paket berisi beberapa film bingkai yang terpisah satu sama lain. Manfaat film bingkai hampir sama dengan transparansi OHP, hanya kualitas visual yang dihasilkan lebih bagus. Sedangkan kelemahannya adalah beaya produksi dan peralatan lebih mahal serta kurang praktis. Untuk menyajikan dibutuhkan proyektor slide.

B. MEDIA AUDIO
1.      Radio
Radio merupakan perlengkapan elektronik yang dapat digunakan untuk mendengarkan berita yang bagus dan aktual, dapat mengetahui beberapa kejadian dan peristiwa-peristiwa penting dan baru, masalah-masalah kehidupan dan sebagainya. Radio dapat digunakan sebagai media pembelajaran yang cukup efektif.
2.      Kaset-audio
Yang dibahas disini khusus kaset audio yang sering digunakan di sekolah. Keuntungannya adalah merupakan media yang ekonomis karena biaya pengadaan dan perawatan murah.

C. MEDIA AUDIO-VISUAL
1.      Media video
Merupakan salah satu jenis media audio visual, selain film. Yang banyak dikembangkan untuk keperluan pembelajaran, biasa dikemas dalam bentuk VCD.

2.  Media komputer
Media ini memiliki semua kelebihan yang dimiliki oleh media lain. Selain mampu menampilkan teks, gerak, suara dan gambar, komputer juga dapat digunakan secara interaktif, bukan hanya searah. Bahkan komputer yang disambung dengan internet dapat memberikan keleluasaan belajar menembus ruang dan waktu serta menyediakan sumber belajar yang hampir tanpa batas.
Incoming search terms:
•    contoh media pembelajaran
•    situs pendidikan
•    jenis-jenis media pembelajaran
•    jenis media pembelajaran
•    jenis jenis media pembelajaran
•    jenis-jenis media
•    jenis media
•    jenis media pendidikan
•    jenis jenis media
•    gambar media pembelajaran

RPP LAGI UKA

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)




A.    STANDAR KOMPETENSI
Membaca : Memahami berbagai hikayat, novel Indonesia/novel terjemahan
B.    KOMPETENSI DASAR
Menentukan unsur-unsur instrinsik  dan ekstrinsik hikayat
C.    INDIKATOR
1.    Kognitif
a.    proses
•    Menemukan unsur-unsur  instrinsik (alur, tema, penokohan, sudut pandang, latar, dan amanat) dalam hikayat.
•    Menemukan nilai-nilai yang terkandung dalam hikayat kemudian hubungkan dengan nilai-nilai masa kini
b.    Produk
•    Menentukan unsur-unsur  instrinsik (alur, tema, penokohan, latar, dan amanat) dalam hikayat.
•    Menentukan nilai-nilai yang terkandung dalam hikayat kemudian hubungkan dengan nilai-nilai masa kini
2.    Psikomotor
•    Menceritakan kembali isi hikayat dengan bahasa sendiri
3.    Afektif
a.    Karakter
•    tanggung jawab
•    tekun
•    kreatif
•    kritis
•     disiplin

b.    Keterampilan sosial
•    Bertanya dengan bahasa yang baik dan benar
•    Menyumbang ide
•    Membantu teman yang mengalami kesulitan
D.    TUJUAN PEMBELAJARAN
1    Kognitif
a.     Proses
Setelah  membaca  dan  memahami  isi   hikayat,  siswa  secara  berkelompok       diharapkan dapat
1.    Menemukan unsur-unsur  instrinsik (alur, tema, penokohan, latar, dan amanat) dalam hikayat.
2.    Menemukan nilai-nilai yang terkandung dalam hikayat kemudian hubungkan dengan nilai-nilai masa kini
b.    Produk
Setelah menemukan hasil pencapaian tujuan proses di atas, siswa secara berkelompok diharapkan dapat
1.    Menentukan unsur-unsur  instrinsik (alur, tema, penokohan, latar, dan amanat) dalam hikayat.
2.    Menentukan nilai-nilai yang terkandung dalam hikayat kemudian hubungkan dengan nilai-nilai masa kini
2.    Psikomotor
Setelah menentukan dan memahami hasil pencapaian tujuan produk di atas, siswa secara mandiri diharapkan dapat
•    menceritakan kembali isi hikayat dengan bahasa sendiri  

3.    Afektif
a.    Karakter
Siswa terlibat aktif dalam pembelajaran dengan memperlihatkan kemajuan dalam berperilaku yang meliputi sikap
•    tanggung jawab
•    tekun
•    kreatif
•    kritis
•     disiplin



b.    Keterampilan sosial
Siswa terlibat aktif dalam pembelajaran dengan memperlihatkan kemajuan kecakapan sosial yang meliputi
•    Bertanya dengan bahasa yang baik dan benar
•    Menyumbang ide
•    Membantu teman yang mengalami kesulitan

E.    MATERI PEMBELAJARAN
•    Pengertian Hikayat
•    karateristik Hikayat
Naskah hikayat
1.    tema
2.    alur
3.    penokohan
4.    latar
5.    amanat
F.    MODEL DAN METODE PEMBELAJARAN
1.    Pendekatan: Pembelajaran Kontekstual 
2.    Model Pembelajaran: Kooperatif Tipe STAD
3.    Metode: tanya jawab, pemodelan, penugasan, dan unjuk kerja
G.    BAHAN DAN MEDIA
•    Naskah hikayat
•    LKS
•    Kertas HVS
H.    ALAT
•    Spidol
•    Format evaluasi
•    Pedoman penilaian dan penskoran





I.    SKENARIO PEMBELAJARAN

No.   
Kegiatam    Penilaian Pengamat
        1    2    3    4
PERTEMUAN I (80 menit)
A1    Kegiatan Awal (15):
Tahap 1 (5 menit): Membaca doa dan mengecek kehadiran siswa. Pemancingan dengan mula-mula menanyakan kesiapan belajar siswa, lalu menanyakan pengetahuan dan pengalaman siswa tentang hikayat.
Tahap 2 (10 menit): Pengarahan dengan mula-mula bertanya jawab tentang unsur-unsur yang membangun sebuah karya sastra dalam hal ini hikayat, kemudian diakhiri dengan penegasan guru tentang tujuan pembelajaran yang harus dicapai dalam proses pembelajaran pada pertemuan itu.               
B1    Kegiatan Inti (55 menit):
(55 menit): guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok, kemudian  memberikan pemahaman kepada siswa mengenai unsur-unsur yang membangun sebuah hikayat, baik unsur yang membangun dari dalam (instrinsik) maupun unsur yang membangun  dari luar (ekstrinsik)
               
C1    Kegiatan Akhir (10 menit)
o    Siswa bersama guru merumuskan kesimpulan umum atas semua butir pembelajaran yang telah dilaksanakan;
o    Siswa  diminta menyampaikan kesan dan saran (jika ada) terhadap proses pembelajaran yang baru selesai mereka ikuti;
o    Guru menugaskan siswa untuk mencari naskah hikayat yang akan mereka tentukan unsur instrinsik dan ekstrinsiknya   



           




J.    SUMBER PEMBELAJARAN
1.    Naskah hikayat
2.    Materi Essensial MGMP Sekolah
3.    Lembar Pegangan Guru
4.    LKS 1 ; LKS 2
5.    LP 1 ; LP 2
6.    Silabus

K.    EVALUASI DAN PENILAIAN
1. Evaluasi
a.    Evaluasi Proses: dilakukan berdasarkan pengamatan terhadap aktivitas peserta  (siswa) dalam menggarap tugas, diskusi, kegiatan tanya jawab, dan dialog informal.
b.    Evaluasi Hasil: dilakukan berdasarkan analisis hasil pengerjaan tugas dan pengerjaan tes, dan pengamatan unjuk keterampilan (performance)

     2. Penilaian
a.    Jenis Tagihan Penilaian: LKS 1 dan LP 1, LKS 2 dan LP 2, , LP 4, LP 5
1)    Tugas Individu: menggunakan LKS 3 ; LP 3
2.    Bentuk Instrumen Penilaian:
1)    Uraian bebas
2)    Jawaban singkat
3)    Lembar pengamatan (Jurnal)











Satuan Pendidikan    : SMA
Mata Pelajaran    : Bahasa Indonesia
Kelas/Semester    : XI/I
Standar Kompetensi    : Membaca
Kompetensi Dasar    : Menemukan unsur-unsur instrinsik  dan ekstrinsik hikayat

LEMBAR PEGANGAN GURU
 (LPG)
Pengertian Hikayat
Hikayat adalah karya sastra melayu lama yang berbentuk prosa yang berisi cerita undang-undang, silsilah raja-raja, agama sejarah, biografi atau gabungan dari semuanya.
Karakteristik Hikayat :
1.    Berbahasa Klise (Biasanya diawali: Syahdan, Pada suatu hari, Alkisah)
2.    Menggunakan bahasa melayu klasik
3.    Bersifat komunal, yaitu menjadi milik bersama
4.    Bersifat anonim
5.    Bersifat pralogis atau irasional, yaitu kejadiannya tidak sesuai kenyataan.
6.    Bersifat istana sentris, yaitu ceritanya kebanyakan mengisahkan kehidupan istana raja-raja.
7.    Bersifat didaktis, yaitu memberikan pengajaran atau pendidikan.
8.    Disampaikan secara lisan
UNSUR-UNSUR INSTRINSIK HIKAYAT
Unsur-unsur instrinsik hikayat adalah unsur-unsur pembangunan struktur yang ada di dalam hikayat itu sendiri. Unsur-unsur instrinsik hikayat  ada 5 yakni :
1. tema            4. latar
2. alur                  5. amanat
3. penokohan       
DAFTAR PUSTAKA
Irawan, yudi (dkk). 2007. Aktif dan Kreatif Berbahasa Indonesia. Jakarta : Pusat Perbukuan

fungsi media massa


Fungsi media massa

1.    Dilihat dari segi psikologi, moral dan agama
Perbuatan akhlak harus terkait dengan perbuatan yang baik, terpuji, bernilai luhur, berguna bagi orang lain. Pebuatan-perbuatan tersebut selanjutnya digunakan sebagai ukuran atau patokan dalam menentukan tingkah laku orang. Kaitanya dengan fungsi media itu sendiri berkaitan dengan  moral, jiwa dan agama yaitu contoh berita-berita tentang  Perilaku Menyimpang Pada Remaja. Banyak faktor yang menyebabkan timbulnya prilaku menyimpang dikalangan para remaja. Di antaranya adalah, longgarnya pegangan terhadap agama .Sudah menjadi tragedi dari dunia maju, dimana segala sesuatu hampir dapat dicapai dengan ilmu pengetahuan, sehingga keyakinan beragam mulai terdesak, kepercayaan kepada Tuhan tinggal simbol, larangan-larangan dan suruhan-suruhan Tuhan tidak diindahkan lagi. Dengan longgarnya pegangan seseorang pada ajaran agama, maka hilanglah kekuatan pengontrol yang ada didalam dirinya. Dengan demikian satu-satunya alat pengawas dan pengatur moral yang dimilikinya adalah masyarakat dengan hukum dan peraturanya. Tetapi jika setiap orang teguh keyakinannya kepada Tuhan serta menjalankan agama dengan sungguh-sungguh, tidak perlu lagi adanya pengaewasan yang ketat. Dengan adanya sajian berita seperti ini membawa dampak yang negatif dan positif juga pada pembaca. Positifnya , dengan adanya sajian berita seperti ini orang tua bisa lebih mengawasi anak-anaknya dalam bergaul di lingkungan sekitarnya. Sedangkan negativnya yakni orang tua akan merasa kurang percaya lagi kepada anak-anaknya karena mereka takut anak mereka akan melangkah pada jalan yang salah.
2.    Di lihat dari sudut pandang Pendidikan
Belajar tidak selamanya hanya bersentuhan dengan hal-hal yang konkret, baik dari segi atau konsep maupun faktanya, tetapi belajar sering pula bersentuhan dengan hal-hal yang bersifat kompleks, maya, dan berada dibalik realitas. Keterkaitanya dengan fungsi media itu sendiri bagi pendidikan adalah para siswa dan guru dapat belajar mengenai jurnalistik yang berkaitan dengan media massa itu sendiri sehingga dalam suatu lembaga pendidikan seperti sekolah bisa memahami tentang media massa tersebut dan ini juga membawa manfaat bagi guru dalam mengajar apa bila seorang guru mengajarkan yang berhubungan dengan pembacaan teks berita , ia dapat menggunakan berita koran (media cetak) sebagai pembantu media dalam pembelajaranya. Penggunaan media pengajaran lebih diutamakan untuk mempercepat proses belajar-mengajar dan membantu siswa dalam menagkap pengertian yang diberikan guru.
Penggunaan media dalam pengajaran diutamakan untuk mempertinggi mutu belajar mengajar.
3.    Dilihat dari segi masyarakat
 perkembangan media sampai pada satuan kecil masyarakat membuat kita harus membuat sikap baru dan lebih kompleks terhadap terminologi-terminologi sosial tradisional yang diyakini oleh masyarakat. perkembangan media massa baru seperti televisi sempat mengubah persepsi sosial masyarakat karena pengaruhnya yang sedemikian dahsyat. Bahkan dapat dikatakan bahwa televisi mampu menjadi sentra kehidupan sosial meski tidak menutup kemungkinan bahwa media cetak juga tetap mempunyai kekuatan yang cukup signifikan dalam masyarakat.
Perkembangan media massa begitu cepat  seiring dengan perkembangan pemikiran dari manusia itu sendiri. Fungsi media massa bagi lingkungan itu sendiri yakni dengan adanya media massa kita dapat mengetahui kabar atau berita-berita dari lingkungan atau daerah lain baik itu bermanfaat bagi masyarakat yang membaca atau pun tidak. Tapi pada hakikatnya sebuah berita disajiakan agar bermanfaat bagi para pembaca, meskipun sebagian masyarakat menilai bahwa pemberitaan yg bersifat anrkis tidak pantas untuk diberitakan karena itu hanya akan membawa citra yang buruk bagi suatu lingkungan daerah tersebut.

4.    Dilihat dari segi Ekonomi
Dalam proses ekonomi, media massa juga menerapkan segmentasi. Segmentasi adalah proses penajaman segmen konsumen yang mengkonsumsi isi media atau industri media yang ada. Faktor ekonomi rupanya menjadi faktor penentu dalam mempengaruhi seluruh perilaku media massa modern. Faktor pasar bebas dalam seluruh proses komunikasi massa memberikan kontribusi yang tidak sedikit dalam membentuk faktor persaingan dan tuntutan ekonomi menjadi pertimbangan bagaimana media massa kontemporer dibentuk dan dikelola.

5.    Dilihat dari segi Persahabatan

Media massa memiliki peran yang sangat penting untuk konsistensi pembentukan persahabatan.  ini  sebagai salah satu bentuk ucapan terimakasih atas peran media massa yang telah turut serta dan untuk menjalin hubungan yang harmonis antara Persahabatan  dengan unsur media massa. Yang bermanfaat mempersatukan bangsa dan membuka keterisolasian seluruh daerah dengan segala implikasinya

6.    Dilihat dari segi Persaudaraan
peradaban manusia di dunia masih diwarnai berbagai kekejaman terhadap manusia dan lingkungannya. Jadi kesejahteraan manusia pencapaiannya bukan semata-mata terletak pada terciptanya hubungan yang seimbang antara individu dan persaudaraan. Tetapi sampai saat ini tampaknya hanya kebebasan yang berkembang dengan pesat, sedangkan persamaan masih jauh tertinggal. Ini terutama disebabkan karena moral persaudaraan tidak mengalami kemajuan

TUGAS : MEDIA JURNALISTIK

FUNGSI MEDIA MASSA  BAGI PSIKOLOGI, AGAMA, MORAL, EKONOMI PENDIDIKAN, MASYARAKAT, PERSAUDARAAN DAN PERSAHABATAN





OLEH
ROLI YANTI
A1D3 09 083


JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2012

Dilihat dari segi psikologi, moral dan agama
Perbuatan akhlak harus terkait dengan perbuatan yang baik, terpuji, bernilai luhur, berguna bagi orang lain. Pebuatan-perbuatan tersebut selanjutnya digunakan sebagai ukuran atau patokan dalam menentukan tingkah laku orang. Kaitanya dengan fungsi media itu sendiri berkaitan dengan  moral, jiwa dan agama yaitu contoh berita-berita tentang  Perilaku Menyimpang Pada Remaja. Banyak faktor yang menyebabkan timbulnya prilaku menyimpang dikalangan para remaja. Di antaranya adalah, longgarnya pegangan terhadap agama .Sudah menjadi tragedi dari dunia maju, dimana segala sesuatu hampir dapat dicapai dengan ilmu pengetahuan, sehingga keyakinan beragam mulai terdesak, kepercayaan kepada Tuhan tinggal simbol, larangan-larangan dan suruhan-suruhan Tuhan tidak diindahkan lagi. Dengan longgarnya pegangan seseorang pada ajaran agama, maka hilanglah kekuatan pengontrol yang ada didalam dirinya. Dengan demikian satu-satunya alat pengawas dan pengatur moral yang dimilikinya adalah masyarakat dengan hukum dan peraturanya. Tetapi jika setiap orang teguh keyakinannya kepada Tuhan serta menjalankan agama dengan sungguh-sungguh, tidak perlu lagi adanya pengaewasan yang ketat. Dengan adanya sajian berita seperti ini membawa dampak yang negatif dan positif juga pada pembaca. Positifnya , dengan adanya sajian berita seperti ini orang tua bisa lebih mengawasi anak-anaknya dalam bergaul di lingkungan sekitarnya. Sedangkan negativnya yakni orang tua akan merasa kurang percaya lagi kepada anak-anaknya karena mereka takut anak mereka akan melangkah pada jalan yang salah.
7.    Di lihat dari sudut pandang Pendidikan
Belajar tidak selamanya hanya bersentuhan dengan hal-hal yang konkret, baik dari segi atau konsep maupun faktanya, tetapi belajar sering pula bersentuhan dengan hal-hal yang bersifat kompleks, maya, dan berada dibalik realitas. Keterkaitanya dengan fungsi media itu sendiri bagi pendidikan adalah para siswa dan guru dapat belajar mengenai jurnalistik yang berkaitan dengan media massa itu sendiri sehingga dalam suatu lembaga pendidikan seperti sekolah bisa memahami tentang media massa tersebut dan ini juga membawa manfaat bagi guru dalam mengajar apa bila seorang guru mengajarkan yang berhubungan dengan pembacaan teks berita , ia dapat menggunakan berita koran (media cetak) sebagai pembantu media dalam pembelajaranya. Penggunaan media pengajaran lebih diutamakan untuk mempercepat proses belajar-mengajar dan membantu siswa dalam menagkap pengertian yang diberikan guru.
Penggunaan media dalam pengajaran diutamakan untuk mempertinggi mutu belajar mengajar.
8.    Dilihat dari segi masyarakat
 perkembangan media sampai pada satuan kecil masyarakat membuat kita harus membuat sikap baru dan lebih kompleks terhadap terminologi-terminologi sosial tradisional yang diyakini oleh masyarakat. perkembangan media massa baru seperti televisi sempat mengubah persepsi sosial masyarakat karena pengaruhnya yang sedemikian dahsyat. Bahkan dapat dikatakan bahwa televisi mampu menjadi sentra kehidupan sosial meski tidak menutup kemungkinan bahwa media cetak juga tetap mempunyai kekuatan yang cukup signifikan dalam masyarakat.
Perkembangan media massa begitu cepat  seiring dengan perkembangan pemikiran dari manusia itu sendiri. Fungsi media massa bagi lingkungan itu sendiri yakni dengan adanya media massa kita dapat mengetahui kabar atau berita-berita dari lingkungan atau daerah lain baik itu bermanfaat bagi masyarakat yang membaca atau pun tidak. Tapi pada hakikatnya sebuah berita disajiakan agar bermanfaat bagi para pembaca, meskipun sebagian masyarakat menilai bahwa pemberitaan yg bersifat anrkis tidak pantas untuk diberitakan karena itu hanya akan membawa citra yang buruk bagi suatu lingkungan daerah tersebut.

9.    Dilihat dari segi Ekonomi
Dalam proses ekonomi, media massa juga menerapkan segmentasi. Segmentasi adalah proses penajaman segmen konsumen yang mengkonsumsi isi media atau industri media yang ada. Faktor ekonomi rupanya menjadi faktor penentu dalam mempengaruhi seluruh perilaku media massa modern. Faktor pasar bebas dalam seluruh proses komunikasi massa memberikan kontribusi yang tidak sedikit dalam membentuk faktor persaingan dan tuntutan ekonomi menjadi pertimbangan bagaimana media massa kontemporer dibentuk dan dikelola.



tempat belajar ilmu jurnalistik

1.    TEMPAT BELAJAR ILMU JURNALISTIK

      Secara formal, ilmu jurnalistik bisa dipelajari di perguruan tinggi negeri maupun swasta, melalui program diploma, strata 1, 2 (magister) dan 3 (Phd. / Dr.) Umumnya jurnalistik hanya menjadi Satuan Mata Kuliah (SKS) dari jurusan publisistik di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Namun ada beberapa perguruan tinggi, yang menjadikan jurnalistik sebagai salah satu jurusan di Fakultas Publisistik, bersamaan dengan Advertising dan Public Relation (PR = kehumasan).
Apakah untuk menjadi wartawan profesional, seseorang harus memiliki pendidikan formal seperti halnya dokter, pengacara, akuntan publik, pilot dan awak kapal? Tidak harus. Siapa pun bisa berprofesi sebagai wartawan, asalkan memiliki keterampilan sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh media massa tempatnya bekerja (wartawan tetap) dan yang akan dikirimi tulisan/foto (wartawan free lance, kontributor tetap). Jadi profesi wartawan berbeda dengan dokter, pengacara, akuntan publik, pilot dan awak kapal yang harus memiliki pendidikan khusus dengan standar internasional.
Selain melalui pendidikan formal di perguruan tinggi, di manakah seseorang bisa belajar ilmu jurnalistik? Biasanya calon wartawan dengan pendidikan strata 1 berbagai jurusan, setelah diterima bekerja di perusahaan media massa, akan dididik (diberi bekal ilmu jurnalistik) melalui program in house training. Selain itu, cukup banyak kursus dan pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga swasta, yang terbuka untuk umum. Seseorang yang berminat belajar ilmu jurnalistik bisa mengikuti training-training di lembaga swasta tersebut.
Apakah untuk menjadi wartawan profesional, seseorang harus memiliki pendidikan formal seperti halnya dokter, pengacara, akuntan publik, pilot dan awak kapal? Tidak harus. Siapa pun bisa berprofesi sebagai wartawan, asalkan memiliki keterampilan sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh media massa tempatnya bekerja (wartawan tetap) dan yang akan dikirimi tulisan/foto (wartawan free lance, kontributor tetap). Jadi profesi wartawan berbeda dengan dokter, pengacara, akuntan publik, pilot dan awak kapal yang harus memiliki pendidikan khusus dengan standar internasional.
Selain melalui pendidikan formal di perguruan tinggi, di manakah seseorang bisa belajar ilmu jurnalistik? Biasanya calon wartawan dengan pendidikan strata 1 berbagai jurusan, setelah diterima bekerja di perusahaan media massa, akan dididik (diberi bekal ilmu jurnalistik) melalui program in house training. Selain itu, cukup banyak kursus dan pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga swasta, yang terbuka untuk umum. Seseorang yang berminat belajar ilmu jurnalistik bisa mengikuti training-training di lembaga swasta tersebut.
Selain melalui pendidikan formal di perguruan tinggi, di manakah seseorang bisa belajar ilmu jurnalistik? Biasanya calon wartawan dengan pendidikan strata 1 berbagai jurusan, setelah diterima bekerja di perusahaan media massa, akan dididik (diberi bekal ilmu jurnalistik) melalui program in house training. Selain itu, cukup banyak kursus dan pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga swasta, yang terbuka untuk umum. Seseorang yang berminat belajar ilmu jurnalistik bisa mengikuti training-training di lembaga swasta tersebut.
Pendidikan Menulis dan Jurnalis
Ada berapa macamkah pendidikan menulis dan jurnalis?
Pendidikan menulis (dalam arti mengarang, menyusun tulisan), sudah mulai diajarkan sejak di bangku SD. Pelajaran menulis ini terus berlanjut sampai ke jenjang perguruan tinggi. Di sini, keterampilan menulis sangat diperlukan dalam rangka menyusun karya ilmiah sebagai bagian dari tugas akhir maupun hasil penelitian. Sementara pendidikan jurnalis (kewartawanan) hanya diajarkan secara formal di jurusan publisistik atau jurnalistik di perguruan tinggi yang membuka jurusan ini, baik untuk program diploma maupun strata. Selain pendidikan formal, menulis dan kewartawanan juga diajarkan di berbagai lembaga pelatihan/training. Media massa besar, baik cetak, radio, televisi dan kantor berita juga mengajarkan keterampilan menulis dan jurnalis melalui program in house training.
Profesi apa sajakah yang terkait dengan kegiatan tulis menulis?
Profesi yang terkait dengan kegiatan tulis menulis antara lain sastrawan (penyair, cerpenis, novelis, penulis naskah drama), wartawan, kolumnis, esais, penulis teks iklan (copy writer), penulis script program radio/tivi, penulis skenario film/sinetron dan ghost writer (penulis pidato, sambutan, artikel dan buku untuk seorang tokoh).
Apakah mereka yang sudah memiliki status penulis/wartawan berarti tidak perlu belajar lagi?  Mereka yang sudah meraih predikat sebagai penulis/wartawan profesional pun tetap harus terus-menerus belajar. Baik secara formal, non formal maupun informal. Pendidikan menulis secara formal di perguruan tinggi, hanya terbatas menyangkut profesi jurnalis (non fiksi). Sementara sasterawan, tidak ada sekolah formalnya. Fakultas sastra di perguruan tinggi, hanya sebatas mengajarkan ilmu sastra. Bukan mendidik mahasiswa untuk menjadi sasterawan.
            Dalam pendidikan menulis dan jurnalis, manakah yang lebih penting: belajar atau berlatih? Berlatih jelas lebih penting. Sebab kegiatan menulis atau menjadi wartawan, lebih memerlukan keterampilan (skill) dan bukan sekadar pengetahuan. Selain dengan berlatih, skill juga akan datang secara otomatis kalau seseorang terus-menerus bekerja sambil memperbaiki diri. Keterampilan apa pun, hanya akan meningkat apabila seseorang telah memiliki “jam terbang” cukup banyak.
Mengapa informasi mengenai pendidikan tulis menulis dan kewartawanan sampai sekarang sangat jarang sampai ke masyarakat? Sebab dunia tulis menulis memang hanya digeluti oleh sedikit orang. Kebanyakan penulis buku petunjuk praktis menulis dan kewartawanan, justru mereka yang tidak memiliki pengetahuan ilmu jurnalistik. Misalnya sasterawan yang kebetulan juga wartawan, menulis buku petunjuk untuk menjadi penulis/wartawan. Atau dosen perguruan tinggi membuat buku petunjuk praktis “Menulis Ilmiah Populer di Media Masa”. Sementara mereka yang memiliki pengetahuan jurnalistik cukup baik, jarang yang mau menyusun buku petunjuk.
Dengan mempelajari matakuliah “Pengantar Jurnalistik” ini mahasiswa akan memperoleh pengetahuan-pengetahuan awal/dasar tentang jurnalistik, sebagai pijakan awal dalam membangun dan mengembangkan upayanya mengenal, memahami, bahkan sekuat tenaga ikut menentukan praktik jurnalistik media massa tersebut, baik bagi kepentingan sektor bisnis maupun demi kemajuan kemanusiaan secara umum.
Matakuliah “Pengantar Jurnalistik” menjelaskan konsep dan pengetahuan dasar tentang jurnalistik dari sejarah perkembangan jurnalistik, fungsi pada setiap ruang lingkup/bidang-bidang media massa (cetak, media radio, media televisi/film, dan media online/media sosial, serta jurnalisme warga (citizen jouornalism), prinsip-prinsipnya (aktualitas, proximity/ kedekatan, nilai      berita, faktualitas/5W+1H, obyektivitas, imparsialitas/berimbang) terkait isu realitas media, agenda setting, dampak media dan etika jurnalistik. Matakuliah ini juga memberikan sejumlah pengetahuan dan ketrampilan dasar jurnalistik yang meliputi teknik dasar pengumpulan fakta (wawancara dan observasi), penulisan jurnalistik (berita, reportase, feature) serta karakteristik foto dan video jurnalistik.
Dengan mengikuti matakuliah Media Relations ini, mahasiswa mampu:
1.    menjelaskan sejarah perkembangan jurnalistik,
2.    menjelaskan bidang-bidang jurnalistik dan karakteristik masing-masing,
3.    menjelaskan prinsip-prinsip jurnalistik,
4.    memiliki ketrampilan dasar jurnalistik khususnya teknik pengumpulan fakta dan penulisan jurnalistik,
5.    memahami karakteristik foto dan video jurnalistik.
Perkuliahan ini dilakukan selama satu semester, dalam 14 kali pertemuan (tiap pertemuan berdurasi 150 menit), 1 kali ujian tengah semester, dan 1 kali ujian akhir semester. Dalam pertemuan (tatap muka) dengan dosen di kelas, mahasiswa akan mengalami pembelajaran dengan metode-metode: curah gagasan (brainstorming), berdiskusi dalam kelompok, mempresentasikan hasil diskusi kelompok dan berdiskusi secara pleno/lintas kelompok, melakukan latihan-latihan praktik (penulisan jurnalistik), mencermati penjelasan dosen (ceramah) dan berpartisipasi dalam tanya-jawab.
Di antara pertemuan tatap muka, mahasiswa akan mengerjakan tugas-tugas seperti mempelajari buku-buku referensi yang direkomendasikan dosen dan makalah/handout yang disajikan dosen, mencari dan mempelajari bahan-bahan bacaan dari sumber-sumber lain (media massa cetak, elektronik, dan media online/website/e-book), melakukan observasi media (misalnya media cetak dan media online/internet), dan melakukan latihan-latihan praktik (penulisan jurnalistik).
Materi perkuliahan terdiri dari pokok-pokok bahasan:
1.    Sejarah perkembangan jurnalistik
2.    Definisi dan karakteristik jurnalistik dan karakteristik jurnalistik beragam media
3.    Prinsip-prinsip jurnalistik dan kaitannya dengan realitas media, agenda setting, dampak media dan etika jurnalistik
4.    Teknik wawancara dan observasi
5.    Teknik penulisan jurnalistik (berita, reportase, feature)
6.    Karakteristik foto dan video jurnalistik.
Untuk mendukung efektivitas perkuliahan, mahasiswa melengkapi pembelajaran dalam pertemuan tatap muka dengan cara mengerjakan tugas-tugas:
1.    Mempelajari bahan-bahan bacaan referensi (softcopy dan buku-buku) dan menulis laporan pembelajaran sesuai format yang ditentukan dosen.
2.    Mencari dan mempelajari bahan-bahan bacaan dari sumber-sumber lain (media massa cetak, elektronik, dan media online/website/e-book) dan menulis laporan pembelajaran sesuai format yang ditentukan dosen.
3.    Melakukan observasi media (cetak, audio-visual, online).
4.    Melakukan latihan penulisan jurnalistik.

TUGAS:
 JURNALISTIK
TEMPAT BELAJAR JURNALISTIK


OLEH

ROLI YANTI         A1D3 09 083
                                       
                                                   

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2012



contoh proposal

BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang

Penggunaan bahasa nasional( bahasa indonesia) tidak dapat dipisahkan dari penggunaan bahasa daerah, demikian juga sebaliknya. Bangsa Indonesia terdiri atas berbagai budaya serta bahasa daerah yang beragam. Bahasa nasional berfungsi sebagai sumber dasar sebagai pengolahan bahasa daerah yang jumlahnya tersebar diseluruh pelosok nusantara.

Bahasa kepulauan Wangi-Wangi  adalah  salah satu bahasa daerah yang di Sulawesi Tenggara yang masih tetap hidu samapai sekarang.  Dalam kedudukannya sebagai bahasa daerah, bahasa kepulauan Wangi-Wangi juga berfungsi sebagai alat pengembang dan pendukung kebudayaan daerah.

Penelitian terhadap bahasa kepulauan Wangi-Wangi mungkin  telah pernah dilakukan sebelumnya , walau masih sangat minim bila dibanding dengan penelitian bahasa daerah lainnya. Walaupun keberadaan perilaku semantik kata sapaan dalam bahasa kepulauan Wangi-Wangi sudah di identifikasi sebelumnya akan tetapi belum secara terperinci. Pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia memerlukan  masukan bahasa-bahasa daerah yang ada ditanah air. 
Hasil penelitian ini menyediakan deskripsi yang sahih mengenai perilaku semantik kata sapaan dalam bahasa kepulauan Wangi-Wangi yang dapat digunakan untuk membandingkan bahasa kepulauan Wang-Wangi Kabupaten Wakatobi dengan bahasa indonesia akan diketahui secara meyakinkan persamaan dan perbedaan keduannya. Dua bahasa tidak dapat dibandingkan tanpa ada deskripsi masing-masing.

Sehubungan dengan hal-hal yang diatas, peneliti ingin menguak sebagian kecil dari misteri yang  terdapat dalam bahasa kepulauan Wangi-Wangi yaitu Perilaku Semantik Kata Sapaan dalam Bahasa Kepulauan  Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi.

1.2    Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang diatas, maka masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah Perilaku Semantik Dalam Bahasa Kepulauan Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi ? 

1.3    Tujuan

Tujuan yang diharapkan dalam  penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan Perilaku Semantik Kata Sapaan dalam Bahasa Kepulauan Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi.

rpp uka

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
Nomor 1

SEKOLAH        :
MATA PELAJARAN     : Bahasa Indonesia
KELAS        : X
SEMESTER         : 1
TAHUN PELAJARAN    : 2009/2010


A.    STANDAR KOMPETENSI :
Mendengarkan : Memahami siaran atau cerita yang disampaikan secara langsung /tidak langsung

B.    KOMPETENSI DASAR :
Menanggapi siaran atau informasi dari  media  elektronik (berita dan nonberita) 

C.    MATERI PEMBELAJARAN :
Siaran (langsung)  dari radio/ televisi,  teks yang dibacakan, atau rekaman berita/ nonberita
•    Pokok-pokok isi berita
•    penangapan isi berita

D.    INDIKATOR :
•    Menuliskan isi siaran radio/ televisi da¬lam beberapa kalimat dengan urutan yang runtut dan mudah dipahami.
•    Menyampaikan secara lisan isi berita yang telah ditulis  secara runtut dan jelas
•    Mengajukan pertanyaan/ tanggapan berdasarkan informasi yang didengar (menyetujui, menolak, menambahkan pendapat)

E.    TUJUAN PEMBELAJARAN :
Siswa dapat:
•    Menuliskan isi siaran radio/ televisi dengan topik tertentu da¬lam beberapa kalimat dengan urutan yang runtut dan mudah dipahami.
•    Menyampaikan secara lisan isi berita yang telah ditulis secara runtut dan jelas.
•    Mengajukan pertanyaan/ tanggapan berdasarkan informasi yang didengar (menyetujui, menolak, menambahkan pendapat)
•    Menanggapi berita dengan menggunakan alasan dan bahasa yang rasional dan logis.

F.    METODE PEMBELAJARAN :
    Penugasan
    Diskusi
    Tanya Jawab
    Unjuk kerja
    Ceramah
    Demonstrasi

G.    LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN PEMBELAJARAN :
Kegiatan Awal    :
    Guru menjelaskan tujuan pembelajaran hari ini.
    Membentuk kelompok diskusi

Kegiatan Inti    :
•    Mendengarkan berita tentang bencana alam ( Misal: semburan lumpur panas Lampindo-Porong-Sidoharjo, pascagempa dan tsunami Aceh)
•    Menuliskan isi berita dalam beberapa kalimat
•    Menyampaikan secara lisan isi berita secara bergantian
•    Mendiskusikan isi berita

Kegiatan Akhir     :
    Refleksi
    Guru menyimpulkan pembelajaran hari ini.

H.    ALOKASI WAKTU :
4 x 40 menit

I.    SUMBER BELAJAR/ALAT/BAHAN :
•    radio/ tape
•    televisi
•    CD salinan berita atau kaset rekaman

J.    PENILAIAN :
Jenis Tagihan:
    tugas individu
    ulangan

Bentuk Instrumen:
    uraian bebas
    pilihan ganda
    jawaban singkat



    Mengetahui,                     kendari 2007
    Kepala                            Guru Mata Pelajaran,